EKABAR.ID Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali menghantui Daerah Istimewa Yogyakarta pada awal 2026. Hingga akhir Januari, Kabupaten Kulonprogo mencatat jumlah kasus tertinggi akibat tingginya mobilitas ternak dan kondisi cuaca yang lembap.
Data Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) menunjukkan, hingga 24 Januari 2026, petugas menemukan 55 kasus aktif di Kulonprogo dan Bantul.
Kulonprogo menyumbang 40 kasus aktif dengan sebaran dominan di wilayah selatan dan tengah.
https://www.instagram.com/reel/DTu15tqElt3/
Sebaran Kasus PMK di Kulonprogo
Kapanewon Wates menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 16 kasus aktif. Klaster terbesar muncul di Kelompok Ternak Ngudi Makmur, Desa Bendungan.
Selain itu, Kapanewon Lendah mencatat 13 kasus, sedangkan Kapanewon Temon menemukan 10 kasus.
Pihak DPP Kulonprogo menjelaskan bahwa masuknya ternak dari luar daerah tanpa karantina memicu lonjakan kasus. Kondisi cuaca awal tahun yang lembap turut mempercepat penyebaran virus melalui droplet.
Sementara itu, Kabupaten Bantul mencatat 16 kasus PMK yang tersebar di Kapanewon Imogiri, Pleret, Bambanglipuro, Pundong, Sanden, dan Pandak.

Langkah Antisipasi dan Mitigasi
Meski jumlah kasus meningkat, pemerintah daerah memastikan tidak ada laporan kematian ternak di Kulonprogo.
