EKABAR.ID Kemanusiaan berada pada posisi paling rentan dalam sejarah modern. Pada Selasa (27/1/2026), Bulletin of the Atomic Scientists mengumumkan pergeseran Jam Kiamat atau Doomsday Clock ke angka 85 detik menuju tengah malam.

Posisi ini menjadi yang terdekat sejak jam simbolis tersebut hadir pada 1947 dan bahkan melampaui ketegangan ekstrem era Perang Dingin.

Science and Security Board, dewan pakar yang melibatkan ilmuwan dan peraih Nobel, mengambil keputusan ini sebagai peringatan keras atas krisis global yang terus memburuk.

Dibandingkan 2025, jarum jam maju empat detik. Meski terlihat kecil, pergeseran ini mencerminkan lonjakan risiko eksistensial yang signifikan.

Para ilmuwan menilai satu masalah utama berada di balik kondisi tersebut, yakni runtuhnya fondasi kerja sama internasional.

https://www.youtube.com/watch?v=DZ2xdjMZpEw

Ancaman nuklir tanpa kendali

Ancaman senjata nuklir menjadi faktor paling mendesak dalam pergeseran Jam Kiamat. Berakhirnya perjanjian New START antara Amerika Serikat dan Rusia pada Februari 2026 tanpa kesepakatan lanjutan membuka era baru tanpa pembatas hukum perlombaan senjata nuklir.

Situasi ini semakin rumit akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Asia Timur. Persaingan strategis yang melibatkan Amerika Serikat, Rusia, dan China mendorong diplomasi ke titik terendah. Kondisi tersebut meningkatkan risiko salah perhitungan yang dapat memicu konflik berskala global.

Bagikan Berita ini: