EKABAR.ID Ruang digital Indonesia kini memasuki fase darurat. Data terbaru menunjukkan sebagian besar pengguna ponsel di Tanah Air menghadapi serangan siber secara rutin.
Ancaman ini tidak hanya membahayakan privasi data pribadi, tetapi juga menggerus stabilitas ekonomi digital nasional.
Presiden Direktur ITSEC Asia, Patrick Dannacher, menyebut sekitar 65 persen pengguna ponsel di Indonesia menerima serangan siber atau upaya penipuan setiap pekan.
Ia memaparkan temuan tersebut dalam paparan kondisi keamanan siber nasional di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
“Situasi ini sangat mengkhawatirkan. Sejak pertengahan 2025, serangan ke perangkat ponsel meningkat sekitar 29 persen,” kata Dannacher.
Lonjakan ini berbanding lurus dengan kerugian finansial akibat penipuan digital yang kini mencapai Rp 9,1 triliun.
https://www.instagram.com/reel/DJgSvKrzfOW/
Modus Kejahatan Makin Canggih
Ancaman siber saat ini tidak lagi sebatas virus sederhana. Peretas mengombinasikan teknologi mutakhir dengan manipulasi psikologis untuk menjebak korban.
Salah satu metode paling berbahaya adalah pemanfaatan kecerdasan buatan untuk menciptakan pesan penipuan yang tampak meyakinkan.
Teknologi deepfake juga mulai marak. Pelaku memalsukan wajah atau suara untuk menipu korban agar mentransfer uang atau membocorkan data sensitif.
