
EKABAR.ID Iran menggunakan ranjau laut sebagai bagian dari strategi perang asimetris untuk menghadapi kekuatan militer yang lebih besar.
Strategi ini sudah berlangsung selama puluhan tahun dan kerap muncul dalam dinamika keamanan di kawasan Teluk.
Selain berfungsi sebagai alat pertahanan, ranjau laut juga memberi tekanan ekonomi global. Lokasi penempatannya berada di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan pasar energi dunia.
@idnfinancials.com Hingga kini belum ada indikasi ranjau telah ditebar di Selat Hormuz. Namun para analis memperingatkan, jika ranjau laut dipasang, proses pembersihannya bisa memakan waktu lama dan berpotensi menyebabkan gangguan pelayaran selama berbulan-bulan. Pelaku pasar energi kini bersiap menghadapi potensi lonjakan harga lanjutan seiring ketidakpastian durasi gangguan di jalur vital tersebut. (DK) idnfinancials breakingnews iran drone minyak
Kapabilitas ranjau laut Iran
Iran memiliki salah satu persediaan ranjau laut terbesar di Timur Tengah. Sejumlah laporan memperkirakan jumlahnya berkisar antara 2.000 hingga 6.000 unit.
Iran menggunakan beberapa jenis ranjau laut dengan kemampuan berbeda. Jenis pertama adalah ranjau kontak yang meledak ketika kapal menyentuhnya.
Salah satu contohnya adalah ranjau M-08 yang berasal dari teknologi Soviet dan Tiongkok.
Selain itu, Iran juga mengembangkan ranjau pengaruh. Perangkat ini meledak setelah mendeteksi perubahan tekanan air, suara kapal, atau medan magnet di sekitarnya.
Jenis lainnya adalah ranjau limpet. Pasukan penyelam atau unit khusus biasanya menempelkan ranjau magnetik kecil ini pada lambung kapal sebagai bagian dari operasi sabotase.
Untuk menyebarkan ranjau tersebut, Iran memanfaatkan berbagai platform. Armada kapal cepat, kapal selam kecil kelas Ghadir, serta kapal sipil yang telah dimodifikasi sering digunakan dalam operasi penebaran ranjau secara diam-diam.

Sejarah insiden ranjau di kawasan Teluk
Sejumlah insiden menunjukkan bahwa taktik ranjau laut bukan sekadar ancaman. Iran pernah menggunakannya dalam beberapa konflik di kawasan.
Pada periode 1987 hingga 1988, konflik yang dikenal sebagai Perang Tanker memicu serangan terhadap kapal komersial di Teluk.
