Menariknya, Aurelie memilih membagikan buku ini secara gratis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Langkah tersebut menunjukkan fokusnya pada advokasi dan keberpihakan terhadap para penyintas, bukan pada keuntungan komersial. Respons publik pun mengalir deras, termasuk dukungan dari sesama seniman.

Dukungan dan Proses Pemulihan
Di balik keberanian itu, Aurelie mengakui peran besar sang suami, Tyler Bigenho. Sejak menikah pada Desember 2024 dan menetap di Amerika Serikat, Aurelie mendapatkan dukungan emosional yang membantunya menyelesaikan naskah ini.
Meski ia menggunakan nama samaran untuk tokoh-tokoh dalam buku, publik mulai mengaitkan kisah tersebut dengan potongan masa lalu Aurelie.
Namun, sorotan utama tetap tertuju pada perjalanan pemulihan yang ia jalani secara sadar dan bertahap.
Refleksi Sosial
Kisah dalam Broken Strings mengingatkan publik tentang bahaya grooming, yakni manipulasi emosional yang menyasar anak di bawah umur.
Keberanian Aurelie memperkaya diskursus tentang kesehatan mental dan perlindungan anak di Indonesia.
Melalui buku ini, Aurelie Moeremans menyampaikan pesan yang kuat. Meski hidup pernah kehilangan harmoni, setiap orang tetap memiliki peluang untuk merangkai masa depan yang lebih utuh.
