Namun, keputusan ini juga memunculkan pertanyaan tentang optimalisasi fasilitas milik Bulog sendiri.

Pengamat Soroti Kemandirian Infrastruktur Pangan
Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia menilai langkah ini efektif dalam jangka pendek. Meski demikian, ia melihat kondisi ini menunjukkan tantangan dalam kemandirian infrastruktur pangan nasional.
Ia menilai pemerintah perlu mengevaluasi distribusi dan kapasitas penggilingan modern milik negara. Menurut dia, kebutuhan ekspor strategis seharusnya dapat dipenuhi melalui fasilitas milik negara sendiri.
Ia juga meminta pemerintah memperkuat rantai pasok pangan dari hulu hingga hilir. Pemerintah perlu mempercepat transformasi teknologi di tingkat petani dan penggilingan kecil serta menengah.
Dengan begitu, Indonesia dapat meningkatkan daya saing sebagai eksportir beras berkelanjutan.
Sementara itu, pasar Timur Tengah menawarkan peluang besar bagi ekspor beras Indonesia. Permintaan datang dari jamaah haji, umrah, pekerja migran, dan masyarakat setempat.
Pemerintah berharap kerja sama ini dapat meningkatkan volume ekspor di masa depan.
Namun, publik tetap menunggu langkah Bulog dalam memperkuat infrastruktur internal. Penguatan ini penting agar Bulog dapat menjalankan ekspor secara mandiri tanpa bergantung pada fasilitas swasta.
