Kedua, sistem memakai angka estimasi ketika petugas tidak mencatat angka riil di lapangan.
Akibatnya, selisih pemakaian yang belum tertagih tidak hilang begitu saja. Sistem akan menambahkan kekurangan tersebut pada tagihan bulan berikutnya.
Sejumlah warga bahkan berbagi pengalaman pahit ketika tagihan belasan ribu rupiah mendadak berubah menjadi jutaan rupiah pada bulan selanjutnya.
Padahal, regulasi pelanggan pascabayar sudah mengatur Rekening Minimum atau RM. Aturan ini menetapkan biaya minimum setara 40 jam nyala sesuai daya terpasang.
Karena itu, tagihan di bawah standar RM untuk rumah tangga aktif seharusnya menjadi sinyal anomali.
Kebijakan subsidi pemerintah
Kekhawatiran publik juga muncul di tengah kebijakan stimulus listrik sejak Januari 2026. Pemerintah memberi diskon tarif 50 persen untuk golongan 450 VA dan menghapus biaya beban bagi golongan 900 VA subsidi.
Meski ada keringanan tersebut, tagihan Rp 15.000 tetap terasa janggal bagi rumah tangga dengan aktivitas normal.
Langkah antisipasi melalui SwaCAM
Menanggapi kondisi ini, PLN terus mengimbau pelanggan agar lebih proaktif. Melalui fitur SwaCAM di aplikasi PLN Mobile, pelanggan dapat memotret sendiri angka meteran setiap tanggal 24 hingga 27.
Cara ini dinilai paling aman untuk memastikan kesesuaian antara pemakaian dan tagihan. Jika pelanggan menemukan kejanggalan, mereka dapat segera melapor lewat Call Center 123 agar tidak terjadi penumpukan tagihan pada bulan berikutnya.
