Ranjau laut merusak supertanker SS Bridgeton dan kapal fregat Amerika Serikat USS Samuel B. Roberts.

Beberapa dekade kemudian, ketegangan kembali meningkat. Pada 2019, Amerika Serikat menuduh Iran menggunakan ranjau limpet untuk menyerang kapal tanker di Teluk Oman yang berada dekat Selat Hormuz.

Sementara itu, laporan intelijen pada Maret 2026 menyebutkan bahwa Iran mulai menempatkan ranjau menggunakan kapal kecil.

Komando Pusat militer Amerika Serikat (CENTCOM) kemudian melaporkan penghancuran sekitar 10 hingga 16 kapal yang diduga terlibat dalam operasi peletakan ranjau.

Pentingnya Selat Hormuz bagi jalur energi dunia

Selat Hormuz memiliki posisi strategis bagi perdagangan energi global. Jalur pelayaran di selat ini hanya memiliki lebar sekitar tiga kilometer di setiap arah.

Namun setiap hari kapal tanker membawa sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak dunia melalui kawasan tersebut. Selain itu, sekitar sepertiga perdagangan gas alam cair dunia juga melintas di jalur ini.

Karena itu, kehadiran ranjau laut memiliki dampak psikologis yang besar. Biaya pembuatan satu ranjau relatif murah, tetapi kerusakan yang ditimbulkan bisa sangat besar.

Satu ranjau dengan nilai sekitar 1.500 dolar dapat merusak kapal perang bernilai miliaran dolar. Risiko tersebut juga dapat menghentikan lalu lintas perdagangan dan memicu lonjakan harga minyak global.

Strategi militer Iran di Selat Hormuz

Iran menjalankan strategi yang dikenal sebagai anti-access area denial atau A2/AD. Pendekatan ini bertujuan membatasi pergerakan kekuatan militer lawan di kawasan tertentu.

Selain itu, Iran sering menggunakan pendekatan penyangkalan atau denial. Strategi ini membantu Iran menghindari konflik terbuka meski ketegangan meningkat.

Selat Hormuz juga berfungsi sebagai chokepoint atau titik sempit perdagangan global. Dengan menempatkan ranjau, Iran tidak perlu menghadapi seluruh armada lawan secara langsung.

Cukup dengan menciptakan persepsi bahaya di jalur pelayaran, perusahaan asuransi kapal dapat menaikkan premi atau bahkan menghentikan aktivitas pelayaran.

Situasi terkini di kawasan

Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat pada Maret 2026. Laporan keamanan menyebutkan adanya aktivitas penempatan ranjau di jalur pelayaran utama Selat Hormuz.

Sebagai respons, Amerika Serikat mengeluarkan peringatan keras terhadap Iran. Militer AS juga melakukan serangan udara terhadap kapal yang diduga menjalankan operasi peletakan ranjau.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas jalur energi dunia. Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik global.

Bagikan Berita ini: