Pertama, ia menegaskan komitmen untuk langsung pulang dan menetap di Indonesia setelah lulus. Kedua, ia aktif mengadvokasi kebijakan lingkungan dan menjembatani komunikasi publik.

Ketiga, ia mendirikan yayasan Green Movement Indonesia sebagai wadah aksi lingkungan. Keempat, ia rutin menjadi pembicara di berbagai seminar pendidikan untuk membimbing generasi muda.

Selain itu, ia mengajar Geografi dan Bahasa Inggris di platform digital. Ia juga tetap berkarya di industri kreatif demi melestarikan lagu anak Indonesia.

Terakhir, ia memberi edukasi parenting untuk mendukung target Generasi Emas 2045.

Pro dan Kontra di Media Sosial

Unggahan tersebut menuai banyak apresiasi. Pendukung menilai Tasya menunjukkan tanggung jawab sebagai awardee dan menjaga amanah dana publik.

Mereka menilai kontribusi tidak selalu harus berbentuk jabatan birokrasi.

Namun, sebagian warganet melontarkan kritik. Mereka menilai kontribusi lewat konten media sosial atau seminar terasa kurang sebanding dengan biaya pendidikan luar negeri yang mencapai miliaran rupiah.

Perdebatan pun terus bergulir. Hingga kini, unggahan Tasya masih memicu diskusi luas soal definisi pengabdian ideal bagi penerima beasiswa negara.

Bagikan Berita ini: