Ia menegaskan bahwa langkah penyitaan ini bertujuan memulihkan aset negara yang hilang akibat praktik korupsi.

Modus manipulasi izin dan ekspor
Dokumen dakwaan menunjukkan para pelaku menjalankan beberapa modus untuk meraup keuntungan. Mereka memanipulasi luas lahan konsesi tambang dan mengurangi laporan volume ekspor hasil tambang.
Selanjutnya, para pelaku menyimpan selisih keuntungan tersebut dalam bentuk aset dan uang tunai. Cara ini mereka gunakan untuk menghindari pelacakan transaksi melalui sistem perbankan.
Tim penyidik juga bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan guna menelusuri aliran dana.
Lembaga tersebut membantu mengidentifikasi pergerakan dana yang diduga mengalir kepada sejumlah perantara perizinan.
Perwakilan koalisi masyarakat sipil antikorupsi menilai penyitaan tersebut menunjukkan besarnya kerugian yang dialami negara.
Ia menyebut dana hampir Rp160 miliar itu bisa digunakan untuk membangun berbagai fasilitas publik di wilayah Bengkulu.
Pengamanan uang dan langkah lanjutan
Petugas menerapkan pengamanan ketat terhadap uang tunai tersebut. Aparat dari Korps Brigade Mobil ikut menjaga lokasi selama proses penanganan barang bukti.
Setelah konferensi pers, petugas menyetorkan seluruh uang tersebut ke kas negara melalui bank penyalur resmi sebagai penerimaan negara bukan pajak.
Namun penyidik belum menghentikan penyelidikan. Tim kejaksaan kini melacak aset lain milik para terdakwa, termasuk lahan perkebunan, properti, dan kendaraan mewah yang diduga berasal dari praktik korupsi di sektor tambang.
