EKABAR.ID NASIONAL -Kekerasan terhadap perempuan penyandang disabilitas kembali terjadi. Seorang perempuan, DH, yang memiliki disabilitas ganda, yakni tuli dan tunagrahita, diduga mengalami kekerasan seksual hingga hamil dan melahirkan.
Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) menyebut peristiwa itu sebagai “tindakan keji” lantaran korban mengalami kekerasan berkali-kali bahkan ancaman oleh pelaku.”Pengamatan kami, korban kerap menangis setiap kali mengingat kekerasan yang dialaminya,” ujar pendamping dan juga konselor HWDI, menceritakan kondisi DH.”Saya bukan marah lagi, saya sedih, nangis… kenapa begini,” tutur Jali yang teringat pada putri bungsunya, DH.DH adalah perempuan disabilitas tuli dan tunagrahita. Ia menjadi korban kekerasan seksual hingga hamil dan melahirkan bayi laki-laki.”Saya merenung, salah saya apa… cuma kalau ketemu orang itu [pelakunya], habis sama saya, bener,” sambungnya dengan amarah yang terpendam.
Bapak dua anak ini bercerita, mulanya tak tahu jika putrinya sedang mengandung. Sebab, saban hari, Jali disibukkan mencari uang, dari ngojek sampai kuli harian di sekitaran Jagakarsa, Jakarta Selatan.Sampai pada suatu hari di bulan Februari 2026, dia merasa ada yang janggal: putrinya tidak menstruasi.”Biasanya kalau menstruasi, dia minta dibelikan [pembalut]. Sebulan itu enggak, bulan berikutnya juga enggak. Saya curiga… batin seorang ayah dan anak kan pasti dekat,” ucapnya kepada BBC Indonesia, Selasa (14/07).”Terus, kalau habis makan, orang enggak hamil pasti kempes [perutnya]. Ini kok enggak,” sambungnya.Eci, seorang tetangga Jali yang tak mau identitas lengkapnya dibuka, bercerita sudah menaruh curiga pada DH karena tubuhnya tampak berbeda.
Meskipun, ada sedikit rasa ragu. Sebab, waktu itu DH berperilaku seperti biasa, main sepeda bersama anak-anak sekitar rumah alias keluyuran. Ia pun masih suka jajan-jajan cemilan dan es.Sependek ingatan Eci, DH juga tak menunjukkan perasaan malu atau mencoba menutup-nutupi kondisinya. Selain itu, badannya juga kecil.”Saya kan pernah hamil, jadi tahu badan orang hamil. DH ini perutnya saya perhatikan kencang, payudaranya juga. Kalau enggak hamil kan perutnya lembek ya,” ujarnya.
Eci lantas bercerita, ketika mendiang ibu DH masih ada, mereka selalu berdua. Tak pernah lepas barang sejam. Namun, saat ditinggal meninggal sekitar tiga tahun lalu, DH nyaris tak ada yang menemani dan menjaga, meskipun usianya sudah menginjak kepala dua.Sejak itulah, DH sering kumpul bersama ibu-ibu.Sebagai gambaran, DH hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Lingkungan tempat tinggalnya berada di permukiman padat penduduk yang jalan menuju rumah warga hanya bisa dilewati satu motor.Biar begitu, banyak warga di sini sayang padanya, ungkap Eci. Ia sendiri suka memberikan makanan secara cuma-cuma pada DH.”Kalau sudah malam, saya suruh pulang. Nurut dia. [DH] kalau pergi [main] kemana-mana,” ucapnya. “Masalahnya, kami juga enggak bisa nemenin dia 24 jam,” ucapnya.
Kabar kehamilan DH akhirnya tersebar, dari mulut ke mulut, sampai ke telinga pengurus RT, RW, dan pihak kecamatan.”Geger lah waktu itu, ramai. Cuma semua orang kasihan, kok tega banget sih sama DH,” ungkapnya geram.Dari situ, sekitar Maret 2026, pihak keluarga yang didampingi pengurus RT dan RW setempat mendatangi Polsek Jagakarsa untuk melaporkan dugaan tindak pidana kekerasan seksual terhadap DH.
Namun, karena kasus tersebut memerlukan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA)—yang pada saat itu tidak tersedia di Polsek Jagakarsa—maka disarankan ke polres.Belakangan, kata Jali, perkara putrinya ditangani Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (Ditres PPA dan PPO) Polda Metro Jaya.Saat pemeriksaan, pihak Ditres PPA Polda Metro Jaya menghadirkan juru bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi dengan sang anak DH, …kembali terjadi. Seorang perempuan, DH, yang memiliki disabilitas ganda, yakni tuli dan tunagrahita, diduga mengalami kekerasan seksual hingga hamil dan melahirkan.
