
EKABAR.ID Eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengarah pada penutupan Selat Hormuz mengancam stabilitas energi nasional. Indonesia berstatus sebagai negara net importer minyak bumi.
Karena itu, gangguan pasokan dapat memicu krisis akut dan melumpuhkan sektor transportasi serta industri dalam hitungan minggu jika pemerintah tidak segera mengambil langkah mitigasi luar biasa.
Selat Hormuz menjadi urat nadi energi global karena jalur ini menyalurkan sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia.
Bagi Indonesia, gangguan di kawasan tersebut berarti aliran impor minyak mentah dan bahan bakar minyak olahan ikut tersendat. Padahal, kilang dan konsumsi domestik sangat bergantung pada pasokan tersebut.
https://www.instagram.com/reel/DVc0JfpEkgT/
Cadangan kritis
Saat ini, Cadangan Penyangga Energi Indonesia hanya mampu menopang kebutuhan sekitar 20 hingga 30 hari. Tanpa tambahan pasokan baru, stok di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum bisa menipis dengan cepat.
Selain itu, kekhawatiran masyarakat berpotensi memicu aksi borong yang mempercepat kelangkaan.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia seperti WTI dan Brent berpotensi melonjak hingga 150 sampai 200 dollar AS per barel. Lonjakan ini akan menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara secara berat.
Pemerintah harus memilih antara menaikkan harga BBM subsidi atau membiarkan kuota subsidi habis lebih cepat.
Seorang pengamat energi di Jakarta menyebut pemerintah kemungkinan menerapkan sistem penjatahan ketat melalui platform digital jika stok benar-benar kritis. Langkah itu bertujuan memastikan distribusi tepat sasaran.
