Di ruang itulah, Laras menuliskan seluruh catatan pembelaannya.

Laras juga menyampaikan kritik terhadap perlakuan aparat serta layanan kesehatan di dalam rutan. Ia mengaku sering menerima teguran bernada keras dan ejekan ketika mengekspresikan emosi atau kesedihan.

Selain itu, ia menilai petugas rutan tidak memberikan layanan kesehatan yang memadai.

Laras menyebut kondisi kesehatannya menurun selama masa penahanan. Ia bahkan mengaku pernah menerima obat yang diduga sudah kedaluwarsa saat mengeluhkan sakit.

Ia juga merasa penyidik memperlakukannya secara tidak seimbang selama proses hukum berlangsung.

Kasus Laras Faizati kembali memicu perdebatan publik mengenai batas kebebasan berpendapat di ruang digital serta profesionalisme aparat dalam menangani tahanan.

Tim penasihat hukum Laras berharap majelis hakim mempertimbangkan aspek kemanusiaan dan latar belakang terdakwa saat menjatuhkan putusan.

Hingga kini, persidangan masih berlanjut dengan agenda pemeriksaan saksi serta tanggapan dari Jaksa Penuntut Umum.

Bagikan Berita ini: