Kawasan Ketol berdiri di atas batuan piroklastika muda dari letusan Gunung Geureudong. Material ini gembur dan mudah tergerus air.

Aliran air bawah tanah mengikis material lunak dan membentuk lorong menyerupai pipa. Lama-kelamaan rongga membesar hingga tanah di atasnya runtuh.

Selain itu, aliran deras anak Sungai Lampahan memicu erosi menghulu. Proses ini membuat lubang terus melebar ke arah lereng yang lebih tinggi dan mempercepat perluasan amblasan.

Intervensi Pemerintah

Kementerian Pekerjaan Umum turun langsung ke lokasi untuk menentukan langkah darurat. Pemerintah menjalankan beberapa upaya mitigasi.

Pertama, pemerintah membangun jalan alternatif sepanjang 1,2 kilometer agar konektivitas antar kabupaten kembali pulih.

Kedua, pemerintah daerah menetapkan lokasi tersebut sebagai zona merah dan melarang aktivitas pertanian maupun kegiatan umum.

Ketiga, Badan Geologi mengkaji pengalihan aliran air permukaan agar tidak masuk ke rongga bawah tanah.

Retakan sebenarnya sudah muncul sejak awal 2000-an. Namun dalam tiga bulan terakhir, keruntuhan terjadi paling masif.

Karena itu, warga perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras yang berpotensi memicu runtuhan susulan.

Bagikan Berita ini: