Kondisi tersebut menuntut kedewasaan dan saling menghormati antarumat beragama. Umat Muslim di Bali tetap dapat menjalankan puasa dan shalat tarawih dengan penyesuaian aturan setempat.
Forum Kerukunan Umat Beragama biasanya mengeluarkan seruan bersama terkait teknis peribadatan. Masyarakat dianjurkan melaksanakan tarawih di rumah atau masjid terdekat dengan berjalan kaki.
Selain itu, penggunaan pengeras suara luar dan cahaya berlebih perlu dihindari demi menjaga kekhusyukan Nyepi.
Tantangan logistik dan mudik
Fenomena menarik terjadi pada hari Ngembak Geni 20 Maret 2026. Hari tersebut bertepatan dengan H-1 Idul Fitri atau malam takbiran. Situasi ini berpotensi meningkatkan mobilitas warga secara signifikan.
Sektor transportasi diperkirakan menghadapi lonjakan penumpang dari Bali menuju Jawa dan Lombok. Arus perjalanan mulai padat setelah Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan pelabuhan penyeberangan kembali beroperasi pada Jumat pagi.
Bagi wisatawan yang berencana ke Bali, sejumlah aturan tetap berlaku saat Nyepi. Bandara dan pelabuhan tutup total selama 24 jam.
Layanan internet seluler berhenti sementara kecuali untuk objek vital. Wisatawan juga tidak boleh beraktivitas di luar area penginapan.
Kedekatan dua hari besar ini menjadi simbol kuat moderasi beragama di Indonesia. Keheningan Nyepi dan sukacita Idul Fitri dapat berjalan berdampingan dalam suasana damai.
