Melalui kebijakan interim treatment, MSCI memastikan tidak ada penambahan saham baru maupun peningkatan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Global Standard untuk periode Februari 2026.
MSCI menyoroti persoalan transparansi struktur kepemilikan saham, khususnya terkait free float. Lembaga tersebut menilai konsentrasi kepemilikan pada sejumlah emiten masih terlalu tinggi dan berpotensi tidak mencerminkan kepemilikan publik secara riil.
“Keputusan ini langsung memicu reaksi negatif karena investor global melihat potensi arus keluar dana pasif yang mengacu pada indeks MSCI,” ujar seorang analis pasar modal di Jakarta.
Ujian kepercayaan investor
Penurunan 8 persen dalam satu hari menempatkan IHSG sebagai salah satu indeks dengan kinerja terburuk di Asia hari ini.
Situasi ini menjadi ujian serius bagi kredibilitas pasar modal nasional, terutama dalam hal tata kelola dan keterbukaan informasi.
Meski demikian, sebagian analis menilai tekanan kali ini lebih dipicu faktor struktural dan sentimen global, bukan pelemahan fundamental ekonomi domestik.
Investor kini menunggu langkah konkret dari Otoritas Jasa Keuangan dan BEI untuk memperbaiki regulasi serta memperjelas data kepemilikan saham.
Sementara itu, pelaku pasar diimbau menjaga kehati-hatian dan menghindari aksi jual panik. Arah kebijakan otoritas bursa dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu utama pemulihan sentimen pasar.
