Ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup kunang-kunang adalah polusi cahaya malam hari dan hilangnya habitat alami. Kunang-kunang mengandalkan pancaran cahaya bioluminesensi mereka untuk berkomunikasi dan menemukan pasangan saat musim kawin.
Paparan sinar buatan dari lampu jalan, gedung, dan kendaraan mengaburkan sinyal cahaya tersebut sehingga mengganggu proses reproduksi. Di samping itu, alih fungsi lahan basah, rawa, serta area tepi sungai menjadi kawasan perkotaan merusak lingkungan tempat hidup larva kunang-kunang.
Penggunaan pestisida sintetis dan insektisida dalam sektor pertanian modern juga makin mempercepat penurunan populasi serangga ini. Bahan kimia tersebut tidak hanya membunuh kunang-kunang dewasa, tetapi juga meracuni larva yang hidup di dalam tanah serta membasmi sumber makanan utama mereka, seperti siput kecil dan cacing. Melalui tindakan konservasi seperti mengurangi penggunaan lampu malam yang berlebihan, membatasi pestisida kimia, dan menjaga area vegetasi basah—kepunahan kunang-kunang masih dapat dicegah.
