
Alasan Teknis dan Manfaat
Secara teknis, genteng tanah liat memiliki konduktivitas panas lebih rendah dibanding seng. Pada siang hari, suhu di bawah atap seng dapat melonjak jauh di atas suhu luar.
Kondisi ini membuat penghuni merasa tidak nyaman bahkan berisiko dehidrasi.
Sebaliknya, genteng mampu melepas panas secara perlahan. Ruangan di bawahnya terasa lebih sejuk dan tenang saat hujan. Dari sisi usia pakai, genteng dapat bertahan puluhan tahun, sementara seng lebih cepat berkarat.
Namun program ini tidak lepas dari tantangan. Berat genteng jauh lebih besar daripada seng. Karena itu, rumah yang semula memakai seng memerlukan penguatan rangka sebelum mengganti atap.
Tanpa perhitungan struktur yang tepat, bangunan bisa mengalami kerusakan.
Pemerintah memperkirakan biaya penggantian atap termasuk penguatan rangka berkisar antara Rp15 juta hingga Rp25 juta per rumah. Angka ini menyesuaikan kondisi wilayah dan tipe bangunan.
Keterkaitan dengan Program Rumah
Rencana gentengnisasi sejalan dengan program pembangunan tiga juta rumah per tahun. Pemerintah tidak hanya membangun rumah baru, tetapi juga merenovasi hunian lama agar lebih layak huni.
Melalui program ini, pemerintah berharap kualitas kesehatan masyarakat meningkat. Lingkungan permukiman pun diharapkan menjadi lebih tertata dan ramah bagi keluarga.
