“Kami menjalankan misi kemanusiaan, bukan kegiatan komersial. Namun, petugas justru membawa pemeriksaan ke arah yang tidak sesuai prosedur,” ujar salah seorang relawan.

Negosiasi di Warung dan Dugaan Pungli
Situasi semakin janggal ketika petugas mengarahkan para relawan ke sebuah warung di sekitar lokasi pemeriksaan untuk menyelesaikan persoalan.
Di tempat tersebut, relawan menduga telah terjadi praktik pungutan liar. Oknum petugas meminta uang sebesar Rp 150.000 untuk setiap kendaraan agar rombongan dapat melanjutkan perjalanan.
Demi menjaga keselamatan anggota dan memastikan bantuan segera tiba di Aceh Tamiang, relawan akhirnya menyerahkan uang sebesar Rp 100.000 kepada petugas.
“Kami terpaksa memberikan uang demi kelancaran misi. Sangat memprihatinkan, di tengah kondisi bencana, masih ada pihak yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi,” tambah relawan tersebut.
Sorotan terhadap Pelayanan Publik
Peristiwa ini memunculkan sorotan terhadap profesionalisme aparat di lapangan, khususnya dalam membedakan kendaraan kemanusiaan dengan angkutan logistik komersial.
Hingga berita ini terbit, Dinas Perhubungan Kota Palembang belum menyampaikan klarifikasi resmi terkait dugaan pungli di kawasan Terminal Karya Jaya.
Aksi relawan ini menunjukkan solidaritas masyarakat Banten untuk membantu warga Aceh yang terdampak banjir.
Namun, praktik transaksional di jalan raya kembali mengingatkan publik akan pentingnya integritas aparat dalam pelayanan publik, terutama di jalur lintas Sumatera.
