
EKABAR.ID KEPAHIANG — Gemuruh air yang menghantam dinding beton di Bendungan Musi samar-samar terdengar dari kejauhan. Di balik bukit Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Kepahiang, air yang mengalir tenang itu menyimpan energi besar: menggerakkan bilah-bilah turbin di kedalaman ratusan meter di bawah permukaan tanah demi menjaga listrik tetap menyala di Bengkulu dan sekitarnya.
Langkah kami berayun menyusuri kawasan PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Bengkulu, pengelola Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Musi, kemarin. Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan rangkaian media insight—ruang perjumpaan antara jurnalis dan pengelola ruang energi. Sebelum menembus area operasional, para jurnalis dibekali pelatihan jurnalistik oleh para pewarta media nasional yang difasilitasi langsung oleh pihak PLN.

Pintu masuk menuju jantung PLTA mulai terbuka saat kami melangkah ke ruang kontrol (control room). Di ruang yang dipenuhi layar monitor dan indikator teknis ini, para operator memantau denyut tegangan dan arus air secara real-time. Perjalanan berlanjut menembus lorong terowongan dingin yang mengarah ke ruang turbin. Dinding-dinding terowongan menjadi saksi bisu betapa rumitnya proses mengubah arus deras menjadi energi listrik.
Langkah kaki akhirnya berhenti di titik vital: area bendungan. Di sinilah debit air diatur sedemikian rupa, dialirkan melalui pipa pesat untuk memutar turbin pembuat daya. Menyaksikan langsung seluk-beluk operasional ini menghadirkan sudut pandang baru tentang rumitnya menjaga keandalan pasokan energi.
