“Ada perubahan nilai yang jelas. Generasi muda lebih mengutamakan stabilitas setelah menikah daripada pengakuan sosial. Mereka melihat kepemilikan rumah sebagai pencapaian yang lebih penting,” ujar Aris, Selasa (24/2/2026).

Selain itu, tekanan ekonomi dan kenaikan harga properti memperkuat keputusan tersebut. Pasangan muda berusaha menghindari beban utang setelah menikah.

Biaya Pernikahan dan Harga Rumah Jadi Pertimbangan

Namun, keputusan menikah sederhana tetap memicu perdebatan. Sebagian masyarakat menilai resepsi pernikahan memiliki nilai budaya dan menjadi bentuk penghormatan kepada keluarga.

Di sisi lain, harga rumah di wilayah perkotaan terus meningkat setiap tahun. Kondisi ini membuat banyak pasangan memilih membeli rumah lebih cepat daripada menggelar pesta besar.

Fenomena ini juga menunjukkan perubahan cara pandang terhadap pernikahan. Pasangan muda tidak lagi mengaitkan kebahagiaan dengan kemewahan pesta atau bulan madu mahal.

Mereka lebih menekankan kemandirian ekonomi dan perencanaan masa depan.

Kementerian Agama terus mendorong kemudahan layanan pernikahan di KUA. Pemerintah ingin memastikan masyarakat dapat menikah secara sah tanpa terbebani biaya tinggi.

Tren ini menunjukkan generasi muda semakin rasional dalam mengambil keputusan penting.

Bagikan Berita ini: