Instruktur kemudian menganalisis data tersebut untuk mengevaluasi kemampuan personel secara lebih akurat.

Seorang pengamat kepolisian menilai penggunaan simulator seperti ini sudah menjadi standar dalam pelatihan keamanan modern.

Menurutnya, teknologi simulasi memungkinkan personel berlatih dalam berbagai skenario tanpa menghadapi risiko tinggi.

Perdebatan publik soal anggaran

Meski teknologi ini terlihat canggih, harga perangkat tersebut memicu perdebatan di kalangan warganet.

Sebagian masyarakat mempertanyakan urgensi pengadaan alat senilai Rp1 miliar di tengah berbagai kebutuhan anggaran lainnya.

Hingga kini, Divisi Humas Polri belum merinci jumlah unit simulator yang dibeli. Pihak kepolisian juga belum menjelaskan spesifikasi teknis secara lengkap kepada publik.

Namun, sumber internal kepolisian menyebut teknologi tersebut digunakan secara luas oleh unit kavaleri di berbagai negara maju.

Viralnya video simulator berkuda ini juga memicu diskusi tentang transparansi pengadaan alat di instansi publik.

Karena itu, banyak pihak berharap pemerintah dan institusi keamanan dapat menjelaskan manfaat teknologi tersebut secara terbuka kepada masyarakat.

Bagikan Berita ini: