Fenomena sound horeg memang sudah lama muncul di beberapa wilayah Jawa Timur. Namun, penggunaan pengeras suara ekstrem dalam kegiatan sahur memicu kekhawatiran baru.

Volume suara tinggi mengganggu waktu istirahat warga dan berpotensi memengaruhi kesehatan pendengaran.

Selain itu, sebagian warga menilai kegiatan tersebut mengurangi makna religius tradisi sahur. Mereka berharap masyarakat dapat menjaga keseimbangan antara tradisi dan norma sosial.

Aparat Selidiki dan Ingatkan Batasan Kegiatan

Polisi dan Satpol PP kini memeriksa izin dan pelaksanaan kegiatan tersebut. Aparat menegaskan bahwa masyarakat boleh membangunkan sahur, tetapi harus menjaga ketertiban dan norma yang berlaku.

“Kami menerima banyak laporan masyarakat. Kami akan mengambil tindakan jika menemukan pelanggaran, termasuk penggunaan pengeras suara berlebihan atau pelanggaran norma di ruang publik,” ujar juru bicara kepolisian setempat.

Sosiolog juga menyoroti fenomena ini sebagai bentuk perubahan perilaku sosial. Menurut dia, sebagian kelompok lebih mengutamakan hiburan dan eksistensi daripada nilai kebersamaan.

Sementara itu, sejumlah komunitas sound system di Jawa Timur mulai mengingatkan anggotanya agar menghormati suasana Ramadhan. Mereka ingin menjaga citra komunitas dan mencegah konflik dengan masyarakat.

Bagikan Berita ini: