SPPG Karangturi, dapur yang memasok makanan MBG ke SMKN 6 Semarang, dibekukan sementara. Selain suspensi operasional, BGN juga mengeluarkan surat peringatan kepada pengelola SPPG, yayasan mitra, dan koordinator kecamatan yang terlibat dalam operasional dapur tersebut. “SPPG kami suspend sampai investigasi selesai. Kami juga memberikan surat peringatan kepada seluruh pihak yang bertanggung jawab sebagai bagian dari pembinaan dan penegakan disiplin,” kata Sudaryono.

Investigasi lintas sektor sudah dimulai sejak Jumat 31 Juli 2026, sehari sebelum Sudaryono tiba, melibatkan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Semarang, Koordinator Regional Jawa Tengah, Koordinator Wilayah Kota Semarang, Koordinator Kecamatan, Babinsa, Kepolisian Polrestabes Semarang, dan Dinas Kesehatan Kota Semarang. Saat ini tim masih menelusuri seluruh tahapan dari pengolahan hingga distribusi makanan, sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para korban.

“Tim investigasi masih bekerja untuk mendalami kasus ini. Kami ingin memastikan penyebabnya berdasarkan hasil pemeriksaan yang komprehensif,” kata Sudaryono dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu 2 Agustus 2026.

Penyebab pasti dugaan keracunan belum bisa dipastikan sampai hasil laboratorium keluar. Semua yang disebut dalam berita ini masih berstatus dugaan, dan proses investigasi masih berlangsung.

Kasus di SMKN 6 Semarang bukan yang pertama dalam sejarah program MBG. Insiden serupa pernah terjadi di berbagai daerah lain sejak program dimulai. Namun kasus Semarang adalah salah satu yang paling besar dalam hal jumlah orang yang terdampak dalam satu kejadian, dan terjadi di hari yang sama ketika Kepala BGN Sudaryono tengah menjenguk korban dugaan keracunan MBG di Semarang, tepat setelah ia berbicara keras di konferensi pers tentang narasi yang menyebut MBG menghabiskan anggaran negara.

Bagikan Berita ini: