
EKABAR.ID ,SEMARANG – Jumat pagi, 31 Juli 2026. Sekitar pukul 09.40 WIB, pihak SPPG Karangturi menerima laporan dari SMK Negeri 6 Semarang. Isinya mengkhawatirkan: sejumlah siswa mulai mengeluh mual, muntah, diare, dan lemas setelah menyantap makan siang dari program Makan Bergizi Gratis yang dibagikan di sekolah itu.
Yang awalnya terlihat seperti keluhan satu dua orang itu berkembang dengan cepat. Dinas Kesehatan Kota Semarang kemudian mendata jumlah yang mengalami gejala serupa: 693 siswa dan 14 guru. Total 707 orang.
Sebagian besar mendapat penanganan langsung di lingkungan sekolah. Tapi puluhan siswa harus dirujuk ke fasilitas kesehatan: Puskesmas Halmahera, RSUD KRMT Wongsonegoro, RST Bhakti Wira Tamtama, dan Puskesmas Bangetayu menjadi tempat mereka menjalani observasi. Pada Sabtu 1 Agustus 2026 siang, masih tersisa satu siswa yang dirawat di rumah sakit. Yang lain sudah menunjukkan perbaikan kondisi.
Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono tidak menunggu di Jakarta. Ia turun langsung ke Semarang pada Sabtu itu, mengunjungi RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum untuk memastikan sendiri kondisi para korban dan memantau penanganan medis yang diberikan. Setelah berkeliling rumah sakit, ia mengumumkan keputusan tegas.
