EKABAR.ID,LAMPUNG SELATAN — Kawasan perairan di sekitar Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami perubahan morfologi yang signifikan. Sebuah daratan baru seluas sekitar 30,3 hektar terpantau muncul di antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung, memicu tanda tanya publik mengenai kemungkinan lahirnya “cucu Krakatau”.

Fenomena munculnya daratan baru ini dikonfirmasi langsung oleh Ketua Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Suwarno. Menurutnya, daratan tersebut terbentuk bukan karena tiba-tiba muncul dari dasar laut dalam semalam, melainkan hasil akumulasi material vulkanik yang dilontarkan selama peningkatan aktivitas erupsi. Material tersebut menumpuk sedikit demi sedikit hingga akhirnya membentuk hamparan daratan seluas puluhan hektar.

Menghidupkan Kembali Sejarah Kelam 1883

Spekulasi mengenai kemunculan “cucu Krakatau” tidak terlepas dari sejarah kawasan tersebut yang melegenda. Letusan mahadahsyat Gunung Krakatau pada Agustus 1883 silam memicu runtuhnya kaldera, tsunami besar, serta merenggut lebih dari 36.000 jiwa di pesisir Pulau Jawa dan Sumatera.

Setelah sempat vakum, aktivitas bawah laut kembali tercatat pada Desember 1927 di dalam kaldera lama Krakatau. Sebulan berselang, sebuah pulau kecil mulai menampakkan diri ke permukaan. Melalui proses panjang erosi ombak dan letusan lanjutan yang berulang-ulang, pulau yang kini dikenal sebagai Anak Krakatau akhirnya berhasil permanen di atas permukaan laut sekitar Agustus 1930.

Siklus sejarah inilah yang membuat publik dengan cepat mengaitkan kemunculan daratan baru pada tahun 2026 ini dengan proses kelahiran Anak Krakatau hampir satu abad silam.

Bagikan Berita ini: