
EKABAR.ID SUMATRA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda berbagai wilayah di Pulau Sumatra pada awal Oktober 2026. Bencana tahunan ini memicu kemunculan kabut asap tebal yang tidak hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas transportasi, tetapi juga mulai mengancam kesehatan masyarakat serta proses belajar-mengajar di beberapa wilayah.
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdeteksi sebanyak 4.127 titik panas (hotspot) yang tersebar di wilayah Sumatra. Ribuan titik panas di antaranya teridentifikasi berada di area konsesi perusahaan yang berlokasi di Sumatra Selatan.
Kota Palembang menjadi salah satu wilayah dengan dampak terparah. Jarak pandang di ibu kota Provinsi Sumatra Selatan ini menyusut drastis hingga tersisa 400 meter. Kondisi tersebut memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah masyarakat dan mulai mengganggu jadwal penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.
