“Kekurangan itu ada, itu yang harus kita perbaiki, baik di fasilitas kesehatannya, di alat-alat kesehatannya, maupun di SDM kesehatannya. Tolong bantu juga teman-teman untuk terus memberikan masukan agar itu kita bisa laksanakan,” ujarnya.
Kejadian ini bermula dari unggahan Yurizal di media sosial Threads yang mengaku harus menunggu sekitar delapan jam di IGD sebelum memperoleh ruang rawat. Beberapa hari kemudian, Yurizal dikabarkan meninggal dunia.
Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Slamet Budiarto menduga ada kecolongan dalam sistem pelayanan rumah sakit terhadap kejadian yang menimpa Yurizal.
Slamet mempertanyakan penyebab pasien harus menunggu hingga delapan jam lalu beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. Ia juga mempertanyakan apakah rumah sakit telah mampu mendeteksi kondisi kegawatdaruratan sejak awal.
“Ada dugaan, bahasanya kecolongan, kenapa pasien itu tidak segera ditangani. Kenapa sampai nunggu 8 jam? Apakah rumah sakit tidak bisa mendeteksi emergensi? Padahal sesuai ketentuan internasional, kalau emergensi dalam waktu beberapa menit harus sudah ditangani,” kata Slamet kepada Suara.com.
Menurutnya, bila benar pasien yang mengalami kondisi gawat darurat harus menunggu selama itu, maka persoalannya bukan semata pada individu tenaga kesehatan, melainkan mengindikasikan adanya persoalan sistem pelayanan rumah sakit.
