“Apa yang terjadi kemarin sangat pantas untuk kita kecam dan kutuk sepenuhnya,” tegas Sánchez.Pemicu gelombang migrasi Reuters sempat mewawancarai seorang remaja Maroko berusia 16 tahun bernama Ayoub El Abyad. Ia mengaku nekat menempuh perjalanan 12 jam menuju Ceuta bersama sepupunya setelah melihat video migran lain yang menyeberang di Instagram.

“Migrasi ini demi kehidupan yang lebih baik. Kami sepakat untuk mencoba menyeberang dan berserah diri kepada Tuhan,” ujar El Abyad kepada kantor berita tersebut dari wilayah perbatasan Maroko.

Video-video tersebut beredar luas di tengah maraknya kabar mengenai putusan Mahkamah Agung Spanyol di media sosial, sehingga banyak pemuda Maroko menganggapnya sebagai kesempatan emas untuk menyeberang.

Masalah ekonomi yang lebih luas juga menjadi faktor pendorong utama. Data resmi yang dikutip Reuters menunjukkan bahwa satu dari empat pemuda Maroko berusia 15 hingga 24 tahun tidak sedang menempuh pendidikan, bekerja, ataupun mengikuti pelatihan.

Selain itu, kondisi laut yang tenang pada periode tahun ini membuat opsi berenang menuju Ceuta menjadi lebih memungkinkan.

Maroko tidak mengakui kedaulatan Spanyol atas Ceuta maupun Melilla, dan menganggap kedua wilayah yang telah berdiri selama berabad-abad itu sebagai wilayah yang “diduduki”. Hal ini memicu spekulasi di kalangan analis bahwa otoritas Maroko sengaja melakukan pembiaran dan tidak maksimal mencegah penyeberangan tersebut.

Bagikan Berita ini: