Daging babi yang terinfeksi lebih berkaitan dengan penularan taeniasis, sementara sistiserkosis berkaitan dengan tertelannya telur T. solium.
Jika larva mencapai sistem saraf pusat, kondisi tersebut disebut neurocysticercosis dan dapat menjadi serius, termasuk menyebabkan kejang atau gangguan neurologis.
Karena itu, kebersihan tangan, sanitasi, keamanan makanan, serta memasak daging dengan benar menjadi bagian penting dalam pencegahan.
Bukan hanya daging babi yang perlu diperhatikan. Daging sapi dan unggas yang mentah atau kurang matang juga dapat membawa kuman penyebab penyakit, sehingga makanan perlu dimasak hingga mencapai suhu internal yang aman. CDC merekomendasikan daging giling seperti sapi dimasak hingga 160°F (71°C), sedangkan seluruh jenis unggas, termasuk ayam, hingga 165°F (74°C).
Jadi, jangan hanya melihat apakah bagian luar makanan sudah matang. Keamanan makanan ditentukan oleh proses pengolahan dan suhu internalnya. Penggunaan termometer makanan merupakan cara yang lebih dapat diandalkan untuk memastikan makanan telah mencapai suhu yang aman.
