Berdasarkan keterangan pihak pemerintah desa setempat, ketegangan antara warga SAD dan pihak manajemen perkebunan kelapa sawit PT SAL terkait persoalan klaim wilayah ataupun pengambilan buah kelapa sawit (TBS) bukan merupakan hal baru dan telah berulang kali terjadi. Meskipun sebelumnya sudah pernah ada mediasi dan kesepakatan tertulis yang difasilitasi oleh Pemerintah Daerah agar kejadian tersebut tidak terulang, gesekan di lapangan masih kerap terjadi.
Tapi di sisi lain, kejadian ini otomatis bikin kita langsung mempertanyakan dan mengkritik andil TNI di sana. Kok bisa ya, institusi militer yang fungsi utamanya buat pertahanan negara dan melindungi segenap bangsa, malah berakhir jadi “𝐭𝐚𝐦𝐞𝐧𝐠 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐚𝐦𝐚𝐧𝐚𝐧” 𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐤𝐨𝐫𝐩𝐨𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐬𝐰𝐚𝐬𝐭𝐚?
Kenapa masalah internal perusahaan versus warga lokal harus diselesaikan pakai pendekatan militer yang represif? Menghadapi warga lokal yang berjuang bertahan hidup kok harus pakai otot dan aksi saling pvkvl? Tugas TNI itu melindungi rakyat, bukan malah ikutan bentr0k sama rakyatnya sendiri demi mengamankan aset perusahaan kelapa sawit. Harusnya masalah sengketa lahan atau gesekan sosial kayak gini diselesaikan pakai dialog yang humanis, bukan malah nurunin personel buat nakut-nakutin masyarakat adat.
