Dua hari kemudian, tepat 23 Juli 2026, Hotman mengumumkan pengunduran dirinya dalam konferensi pers di RS Medistra, Jakarta Selatan. Ia hadir menggunakan kursi roda dan menyatakan akan kembali ke Singapura untuk pemeriksaan lanjutan. Ia menegaskan alasan mundur murni kesehatan, bukan tekanan politik ataupun tekanan hukum. Jika dipaksakan terus bekerja, risikonya bisa lumpuh.

Publik langsung mendadak menjadi dokter spesialis saraf. Timeline media sosial berubah menjadi ruang praktik neurologi. Ada menjelaskan MRI, ada membahas tulang belakang, ada pula mendadak hafal anatomi lebih cepat dari hafal isi dompet sendiri.

Padahal sebelumnya panggung politik sedang panas. Saat menerima kuasa pada 17 Juli 2026, Hotman menyebut kasus Febrie sebagai bentuk kriminalisasi terhadap jaksa berprestasi. Ia membawa nama Presiden Prabowo Subianto dalam pembelaannya dengan menyatakan Febrie berjasa menyelamatkan aset negara. Pernyataan itu memancing polemik ke mana-mana, ditambah kontroversi ucapannya yang dianggap melecehkan profesi wartawan hingga berujung laporan PWI ke polisi.

Drama sudah lengkap. Tinggal menunggu soundtrack. Namun semesta ternyata memilih genre komedi. Semua perdebatan raksasa itu akhirnya tumbang oleh sesuatu yang ukurannya tidak sebesar kabel charger, yaitu saraf yang kejepit.

Kasus Febrie sendiri tetap berjalan. Mantan Jampidsus itu masih berstatus tersangka dalam perkara dugaan korupsi PT Asabri dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Mundurnya Hotman tidak menghentikan proses hukum. Posisi pengacara kini diteruskan oleh Farisi. Masa pendampingan Hotman pun hanya sekitar sepekan sejak menerima kuasa pada 17 Juli hingga resmi mundur pada 23 Juli 2026

Bagikan Berita ini: