Komando Tunggal dan Hilangnya Dualisme Visual.Dalam jalannya sidang tersebut, suasana tampak berbeda dari biasanya. Presiden Prabowo Subianto tampil berdiri sendiri di depan sebagai pusat komando tunggal.

Sementara itu, Gibran Rakabuming Raka terlihat digeser ke sisi penerima arahan. Posisi duduk Gibran berada tepat di sebelah Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menko Pangan Zulkifli Hasan.Yang menjadi catatan bagi banyak pihak adalah, ketiadaan pemisah fisik atau jarak yang meyakinkan antara posisi wapres dengan para menteri koordinator tersebut.

Secara estetika protokoler, Gibran tampak melebur ke dalam barisan pembantu presiden dibandingkan sebagai mitra sejajar dalam dwitunggal kepemimpinan nasional.Meski papan nama di mejanya tetap mencantumkan jabatan “Wakil Presiden RI”, secara visual konfigurasi baru ini menciptakan kesan kuat bahwa Gibran kini hanya berstatus sebagai salah satu pembantu presiden yang bertugas menerima instruksi, bukan pemberi arahan utama.

Hamdi menegaskan, dalam politik, simbol visual seringkali berbicara lebih keras daripada pernyataan resmi.Perubahan ini dianggap sebagai sinyalemen bahwa sentralisasi kekuatan kini sepenuhnya berada di tangan Prabowo Subianto.

“Perbedaannya dari sebelum-sebelumnya di mana presiden dan wapres memimpin kabinet secara berdampingan.”Sejarah kepemimpinan di Indonesia biasanya menempatkan presiden dan wakil presiden dalam satu meja panjang yang sama di depan ruangan saat Sidang Kabinet Paripurna. Format tersebut secara tradisional melambangkan kesatuan eksekutif.

Dengan dipisahnya Gibran ke barisan menteri, muncul interpretasi bahwa derajat otoritas Wapres sedang mengalami penyusutan di mata publik.

Bagikan Berita ini: