Lulusan bidang hukum dan syariah diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan literasi hukum, membantu masyarakat memahami hak dan kewajiban, serta mendorong pelayanan publik yang tertib dan berkeadilan sesuai kompetensinya.
Sementara itu, lulusan ekonomi Islam memiliki peluang untuk mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), meningkatkan literasi keuangan, memperkuat pencatatan usaha, serta mendorong pengembangan ekonomi masyarakat yang produktif dan inklusif.
“Pemerintah daerah memerlukan masukan yang kritis sekaligus operasional; kampus perlu menyajikan temuan secara jernih dan dapat diuji,” ungkapnya.
Hendri turut menekankan pentingnya integritas bagi setiap lulusan perguruan tinggi Islam. Menurutnya, nilai amanah, keadilan, dan kemaslahatan harus menjadi landasan dalam mengambil keputusan, baik ketika bekerja di pemerintahan, menjalankan usaha, menjadi pendidik, maupun terlibat langsung dalam pemberdayaan masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa integritas tidak cukup hanya menjadi nilai yang disampaikan dalam pidato, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, tanggung jawab, dan kesediaan menerima pengawasan serta koreksi.
“Ketika bekerja sebagai aparatur, dahulukan kepentingan publik. Ketika menjadi pelaku usaha, bangun transaksi yang jujur dan bertanggung jawab. Ketika menjadi pemimpin, jangan jadikan kewenangan sebagai privilese, melainkan sebagai beban amanah,” pesannya.
Dorong Kolaborasi IAIN Curup dan Pemerintah Daerah
Lebih lanjut, Hendri melihat peluang untuk memperkuat kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong dan IAIN Curup dalam mendukung pembangunan berbasis pengetahuan.
Sejumlah bidang yang dapat dikembangkan antara lain kajian kebijakan daerah, literasi hukum dan pelayanan publik berbasis desa atau kelurahan, pendampingan UMKM, penguatan ekonomi lokal, serta pelaksanaan riset terapan dan pengabdian mahasiswa.
Ia menegaskan bahwa kolaborasi tersebut perlu dirancang dengan tujuan yang jelas, pembagian peran, indikator hasil, dan evaluasi berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan suatu program tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan atau peserta, tetapi juga dari perubahan yang dihasilkan. Pendampingan UMKM, misalnya, perlu dilihat dari peningkatan kemampuan pengelolaan keuangan dan akses pasar, sedangkan program literasi hukum harus mampu meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap hak dan akses layanan yang tepat.
Di hadapan para peserta yudisium, Hendri juga mengingatkan bahwa gelar akademik bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan seorang sarjana. Masyarakat akan menilai sejauh mana ilmu dan kemampuan yang dimiliki mampu menghadirkan perubahan positif.
“Jangan memandang daerah sebagai ruang yang sempit bagi cita-cita besar. Justru di daerah, persoalan publik tampak dekat dan dampak pengabdian dapat dirasakan langsung,” pesannya.
Ia mengajak para lulusan untuk terus mengembangkan kemampuan analitis, komunikasi, kolaborasi, dan literasi digital, sekaligus membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Menutup orasi ilmiahnya, Hendri menyampaikan apresiasi kepada para orang tua dan keluarga yang telah mendukung perjalanan pendidikan para lulusan, serta kepada pimpinan dan dosen FSEI IAIN Curup yang telah berperan dalam menyiapkan generasi terdidik.
“Keberhasilan pendidikan tinggi tidak berakhir pada jumlah lulusan, tetapi pada kualitas manfaat yang dihadirkan para lulusannya. Pemerintahan yang baik memerlukan warga yang kritis dan berintegritas, pembangunan yang berkelanjutan memerlukan pengetahuan yang berpihak pada kemaslahatan, dan masyarakat yang maju memerlukan sarjana yang bersedia bekerja, bukan hanya berbicara,” pungkasnya.


