Sementara BPS memakai pendekatan Cost of Basic Needs atau kebutuhan dasar yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Perhitungannya mencakup kebutuhan makanan setara 2.100 kilokalori per orang per hari serta kebutuhan nonmakanan seperti perumahan, pendidikan, kesehatan, pakaian, dan transportasi.

Data Susenas, perbedaan harga, pola konsumsi hingga karakteristik tiap wilayah juga menjadi bagian dari penghitungan.

Karena itu, angka 64,2 persen versi Bank Dunia bukan berarti bertentangan secara langsung dengan angka 8,07 persen versi BPS.

Keduanya menggambarkan kondisi masyarakat menggunakan ambang dan kepentingan statistik yang berbeda: satu untuk perbandingan internasional, sementara lainnya menggunakan standar kemiskinan nasional Indonesia. Perbedaan metode inilah yang membuat hasil akhirnya terlihat sangat jomplang.

Bagikan Berita ini: