Berdasarkan pemantauan statistik PM2.5 Musi Dua Palembang pada Rabu, 5 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB, konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 57,2 mikrogram per meter kubik. Angka ini sudah masuk dalam kategori tidak sehat. Wandayantolis menjelaskan, penurunan kualitas udara diduga dipengaruhi asap karhutla yang terbawa angin hingga ke Kota Palembang. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terutama ketika udara mulai terlihat berkabut atau tercium bau asap.
Selain berdampak pada kualitas udara, kondisi ini juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, salah satunya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Dinas Kesehatan Sumatera Selatan menyebut, kasus ISPA biasanya meningkat pada musim kemarau, terutama jika disertai karhutla dan paparan asap.
Meski jumlah kasus ISPA pada semester pertama 2026 cenderung lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, risiko peningkatan kasus masih diwaspadai memasuki puncak kemarau. Paling tinggi, kasus ISPA tercatat di Palembang dengan 85.032 kasus. Disusul Muara Enim 30.668 kasus, Musi Banyuasin 17.946 kasus, Lahat 13.523 kasus, Musi Rawas 13.700 kasus, Banyuasin 14.140 kasus, dan OKU Timur 15.109 kasus.
Menghadapi kondisi ini, BMKG mengimbau masyarakat Palembang kembali menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Masyarakat juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, menghemat penggunaan air, serta menjaga kondisi kesehatan.
Dinas Kesehatan juga mengimbau warga menjaga kualitas udara di dalam rumah, menghindari asap rokok dan pembakaran sampah, serta menggunakan masker saat kualitas udara memburuk. Jika muncul keluhan kesehatan yang tidak membaik atau terdapat gangguan pernapasan, masyarakat diminta segera mendatangi puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.
