Penelitian tersebut menunjukkan jumlah kebakaran ekstrem dan emisi karbon yang dihasilkan dapat meningkat drastis, mencapai empat hingga lima kali lipat dibandingkan tahun-tahun lainnya.
Perubahan iklim memicu kombinasi suhu tinggi, kelembapan rendah, dan kekeringan udara. Kondisi tersebut memperpanjang periode panas dan kering sehingga meningkatkan potensi pertumbuhan serta penyebaran kebakaran.
Kondisi itu semakin diperparah aktivitas manusia, terutama deforestasi dan pembukaan lahan untuk pertanian serta perkebunan. Pembabatan hutan di wilayah tropis seperti Indonesia dapat memperparah dampak dan memperpanjang durasi karhutla.
Temuan penelitian dinilai penting untuk memperkuat kebijakan pengelolaan kebakaran. Keterbatasan personel, peralatan, dan anggaran saat titik api muncul secara bersamaan membuat strategi penanganan perlu diperkuat.
“Pengelolaan karhutla disebut tidak boleh berhenti pada tindakan reaktif setelah titik api meluas, tetapi perlu juga adanya tindakan proaktif.”
Langkah tersebut mencakup pengurangan bahan bakar alami di lapangan, pencegahan pemicu kebakaran akibat aktivitas manusia, serta penyediaan infrastruktur perlindungan bagi masyarakat dan ekosistem untuk meminimalkan dampak bencana.
