
EKABAR.ID NASIONAL – Pakar menyebut kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin sulit dipadamkan akibat perubahan iklim dalam satu dekade terakhir. Kekeringan panjang dan cuaca ekstrem membuat api lebih mudah berkembang dan sulit dikendalikan.
Riset John T. Abatzoglou dan rekan-rekannya yang diterbitkan di Nature Communications mengungkap perubahan iklim akibat aktivitas manusia meningkatkan risiko tahun kebakaran hutan ekstrem secara global sebesar 88 hingga 152 persen pada periode 2011-2040 dibandingkan masa pra-industri 1851-1900.
Istilah tahun kebakaran ekstrem merujuk pada tahun dengan area terbakar terbesar berdasarkan data Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) selama 2002-2023. Kondisi tersebut umumnya bertepatan dengan cuaca ekstrem pemicu kebakaran berdasarkan Fire Weather Index (FWI).
Rentetan kebakaran ekstrem terjadi di berbagai wilayah dunia, seperti Siberia pada 2012, Australia pada 2019-2020, Amerika Serikat bagian barat pada 2020, Chili pada 2022-2023, serta Kanada pada 2023.
